19 November 2016

Turing 2016 (Dieng Plateau) bagian 8

Setelah menyantap mie ayam saatnya mencari penginapan, begitu banyaknya penginapan di dieng sampai saya bingung mana yang cocok buat saya menginap, ada sich beberapa yang saya tahu melalui web, ya sudah saya mencari penginapan yang memiliki parkir motor yang aman dan tentunya ada air hangat untuk mandi mengingat suhu udara Dieng ini sangat dingin. Mondar-mandir dari satu penginapan ke penginapan yang lain, akhirnya saya memilih menginap di Hotel Asri 1 mengingat posisinya persis di depan Masjid besar.


Jalan di sekitar Hotel Asri


Hotel Asri 1


Kalau lihat penampakannya penginapan ini bangunannya semi permanen dimana masih digunakan bilik kayu untuk menyekat kamar satu dengan lainnya, untuk air hangat menurut saya sich kurang hangat yach. Penginapan ini hanya menyediakan Free Coffee, Teh dan fasilitas TV di ruang tamu. Semakin menjelang maghrib suasana makin tambah dingin dan nampak kabut mulai turun, baru dach terasa dinginnya, akhirnya saya melaksanakan Shalat Maghrib di Masjid Besar persis depan penginapan.  Suhu udara yang begitu dingin membuat kran air untuk mengambil air wudhu juga terasa dingin. Saya sarankan umpama ada yang mau ke Dieng bawa perlengkapan mantel yang tebal untuk mengusir hawa dingin serta jangan lupa sarung tangan dan kaos kaki. Malampun sudah semakin larut namun mata ini masih saja belum mengantuk serasa ada yang harus disantap, datanglah saya ke rumah makan untuk memesan soto biar udara dingin semakin cair.





Turing 2016 (Dieng Plateau) bagian 7

Setelah Ba'da Jumat perjalananpun dilanjutkan dan tidak beberapa lama sampailah saya ke Kabupaten Banjarnegara disini tidak lengkap kalau tidak mencoba Es Dawet Khas Banjarnegara lumayan untuk mengurangi rasa haus, matapun melirik ke kiri dan ke kanan mencari Es Dawet ternyata gak semudah itu saya mendapatkannya, saya pikir mudah ditemui ternyata sulit juga ha...ha...ha... , tapi saya tidak putus asa dan akhirnya saya menemukan juga Lokasi Titik Koordinat

Es Dawet Khas Banjarnegara


Memang sich rasa Es Dawet dimanapun sama dan yang sudah-sudah saya setiap beli Es Dawet gak pernah nambah, cuma baru kali ini saja sampai nambah, kemungkinan besar pertama saya memang haus dah kemungkinan kedua karena saking jauhnya saya beli jadi berpengaruh dengan kenikmatan rasanya ha...ha...ha..., setelah selesai saya kembali melanjutkan perjalanan di daerah ini, ternyata jalan yang dilalui banyak jalanan yang menanjak, disetiap jalanan ada plang pemberitahuan agar kita selalu berhati-hati sering terjadi longsor dan benar saja ada jalanan yang sedang longsor, sehingga menyebabkan jalanan yang semula bisa dilalui 2 kendaraan mobil akibat hal tersebut hanya bisa dilalui oleh 1 mobil saja, nampak beberapa pekerja memberikan arahan agar berhati-hati saat melintasi daerah ini. Saya tidak bisa membayangkan gimana kalau kita melintasi daerah itu saat malam hari dengan kecepatan tinggi dan kita tidak mengetahui situasi kondisi jalanan seperti itu, apalagi suasana sekitar kalau saya perhatikan tidak ada lampu penerangan jalan.

Saat memasuki Dieng kita akan disuguhi track tanjakan dan turunan yang benar-benar ekstrim, nach disinilah kita baru dapat mengetahui kemampuan sebuah motor saat melintasi daerah sana, saat turun sich tidak masalah cuma pada saat naik baru lach berasa ngos-ngosan untuk tiba di puncak, adapun posisi jarum speedo hanya menunjukkan 10 KPJ edan rek susah banget naiknya sampai saya keluarkan segala cara untuk bisa naik ke atas dengan berbagai teknik tentunya baik dari gentakan gas, pengambilan ancang-ancang sebelum menaiki tanjakan dan bahkan dengan gerakan badan saya pun ikut melakukan dorongan agar motor ini bisa naik ke atas ha...ha....ha...  Gila banget benar-benar menguras tenaga, terkadang sudah mau sampai puncak mesin juga hampir mati, ampun dach benar-benar luar biasa, padahal motor yang saya gunakan Kamvas Koplingnya sudah ganti baru, busi juga baru malah sebelum keberangkatan sudah diservis, kebayang kalau ini motor Kamvas Kopling belum di ganti dijamin bakal nangis bombay dach.... ha...ha...ha..........

Saat menaiki sebuah  tanjakan yang agak letter Z saya diberhentikan oleh para pekerja yang sedang mengaspal jalanan untuk menunggu mobil yang berada di tanjakan agar turun terlebih dahulu, setelah mereka pada turun baru kita diberi jalan, saya orang pertama yang jalan terlebih dahulu baru diikuti mobil yang lainnya, tapi apa saudara-saudara ternyata saya juga orang yang terlebih dahulu turun karena tidak kuat menanjak karena saat saya coba menaiki tanjakan yang curam tersebut baru setengah jalan motor sulit sekali untuk naik tanjakan yang curam tersebut, saat saya coba geber bukaan gas 3/4 sama sekali motor sudah tidak mau jalan dan malahan saat kondisi kemiringan seperti itu malah mesin mendadak mati, saya segera mungkin melakukan pengereman dan melihat para pekerja yang masih dibawah berharap mereka menolong saya, namun dalam hati gak mungkin juga kali wong mereka juga lagi pada sibuk berkerja,  Saya segera berpikir cepat bilamana kita melakukan putar balik pasti langsung jatuh ini motor, tambahan mesin saat distart juga sudah tidak mau menyala lagi, akhirnya saya ada ide untuk jalan mundur saja pelan-pelan jangan dipaksa pikir saya. Dalam hati berpikir untung bawa motor enteng coba bawa motor beratnya kayak kerbau, pasti bakalan kesulitan untuk melakukannya. Perlahan pasti akhirnya saya bisa juga turun ke tempat semula, setelah itu saya coba putar balik dan coba mengambil ancang-ancang lebih jauh lagi dan dengan memperbesar bukaan gas coba saya geber motor akhirnya tanjakanpun terlampaui cuma yaitu tadi kecepatan sampai di tanjakan hanya 10 KPJ dan itupun dibantu dengan dorongan Body kita (maju-mundur-maju-mundur cantik udah kayak syahrini) ha...ha....ha.... Akhirnya dengan niat yang kuat sampailah saya ke Dieng, saya cuma bergumam dalam hati "LUAR BIASA" gak rugi mengambil cuti kerja dan merasakan sensasi pengalaman yang sangat mengagumkan ini, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wib, segeralah saya bergegas untuk mencari makanan dan penginapan di dekat sana.

Memasuki Kawasan Dieng


Mie Ayam Dieng

Narsis dulu di Welcome to Dieng





Turing 2016 (Dieng Plateau) bagian 6

Melanjutkan perjalanan di pagi hari benar-benar bikin segar badan dan mata ini, jalan yang kita lalui melalui sawah di kanan maupun di kiri, belum lagi kita disuguhi keindahan alam pedesaan, speed motor masih dalam batas wajar saya pelankan laju kendaraan hanya dikisaran 40 KPJ sambil menikmati pemandangan yang ada, tujuan selanjutnya tentu menuju ke kota Purwokerto mengingat ada SUHU Unsoed yang mau ikut ke Dieng. Memasuki kota Purwokerto saya sampai di alun-alunnya, saya sangat terkesan dengan kotanya yang bersih dan jalan-jalannya yang tidak begitu besar, sepertinya tatakotanya memang benar dikelola dengan baik. 

Pagi hari di depan Kampus Unsoed


Sambil menunggu SUHU Unsoed datang

Bersama dengan SUHU Unsoed

Sudah lama tidak bertemu sekitar 3 tahunan mengingat dulu beliau waktu bergabung dengan Bapukers saat masih SMA ha...ha..ha.... sekarang sudah kuliah di Unsoed ambil jurusan Hukum. Tadinya beliau mau datang ke Dieng bareng dengan saya namun karena satu dan lain hal, beliau baru bisa hadir keesokannya. Yo wess kalau gitu nggak apa-apa sayapun melanjutkan perjalanan, dimana yang menjadi RC SUHU Unsoed untuk memandu saya arah ke Dieng hanya sampai perbatasan antara Purwokerto dan Purbalingga kota kelahirannya Pahlawan Nasional Jenderal Besar Soedirman. Memasuki kota Purbalingga suasana jalan ramai lancar dan berhubung waktu itu Hari Jum'at saya segera mencari Masjid guna melaksanakan Shalat Jumat.




15 November 2016

Turing 2016 (Dieng Plateau) bagian 5

Untungnya hujan tidak begitu lama dan akhirnya reda juga, langsung saya isi Bensin Pertamax untuk melanjutkan perjalanan ini, saat memasuki kota Banjar ada pengalihan jalan dimana ada jembatan yang longsor, nampak petugas memberikan arahan untuk tidak melalui jalan tersebut. Walaupun demikian hal ini tidak membuat saya bingung karena papan arah penunjuk jalan sangat-sangat membantu saya untuk mengambil keputusan. Tidak terasa akhirnya saya melewati daerah Cilacap, dimana jalan yang saya lalui lebih banyak jalan yang rusak ketimbang jalan yang mulus sesekali saya sering menghajar jalan berlubang dan cenderung bergelombang. Belum lagi ditambah minimnya lampu penerangan di daerah sana, jadi harus hati-hati buat kendaraan yang penerangan lampunya kurang terang. Saat melewati daerah ini kembali saya merindukan Radar+E yang memiliki shock empuk dan lampu yang sangat terang. Kalau saja saya punya pasti lebih enak perjalanan ini.

Pada suatu ketika disebuah tempat yang agak gelap saat saya melirik ke spion sebelah kanan saya melihat cahaya lampu motor yang coba mengejar motor saya, yo wess daripada-daripada, mendingan-mendingan tancap gas dech wong situasi jalanan sepi ini. Akhirnya saya coba pacu kendaraan ini dengan High Speed, apa yang terjadi saudara-saudara ternyata itu motor semakin mendekat, dalam hati udah berasa dag dig dug "Jangan-jangan komplotan begal nich, kayaknya nafsu banget ngebalapnya" ternyata tanpa saya duga motor itu dengan cepat menyalip saya dia menggunakan Yamaha NMAX 150 dan yang bikin saya ketawa adalah Ridernya Wanita Berjilbab dan sayang gak pakai Helm. Dalam hati saya bergumam "masa sama cewek di balap wkwkwkwk "   Tapi apa daya memang kemampuan motor yang saya gunakan seperti itu mau di gas pol gimanapun tetap aja bakal kesalip pastinya, akhirnya saya bisa menyaksikan kedahsyatan Nmax 150 di depan mata, gileee bener bikin ngiri aja ngelihat larinya itu motor ckckckck........ Memang saat melewati beberapa kota mulai dari Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Cilacap selalu saja ada godaan untuk memacu kendaraan motor dengan kecepatan tinggi, disinilah letak kedewasaan kita saat berkendara di uji, karena salah sedikit saja sudah pasti akan timbul kecelakaan yang tidak kita inginkan, oleh karena itu berhati-hatilah selalu kapanpun dan dimanapun.   

Tibalah saya di kota Banyumas ternyata disini sedang ada acara hajatan lumayan ramai, namun tidak mengganggu lalu lintas jalan raya. Tadinya saya ingin melanjutkan perjalanan hingga masuk ke Purwokerto, namun saat saya melirik ke Jam waktu sudah menunjukkan jam 12.00 malam weww... pantas saja saya sudah merasakan sedikit ngantuk, akhirnya saya coba putuskan untuk bermalam di Banyumas sambil lirik kanan kiri jalan mencari penginapan, nampak saya melihat plang Hotel Karang Anyar Indah (Hotel KAI) 2 KM lagi, segera saya menuju kesana dan pada akhirnya ketemu juga itu hotel, Tarifnya bervariasi minimum Rp.50.000,-  namun tidak ada fasilitas kipas anginnya, akhirnya saya memilih yang Rp.100.000 dengan menggunakan kipas angin. Fiuhhh... perjalanan yang menyenangkan tidak terasa rasa lelah ini membuat saya dengan mudah tidur lelap di Hotel KAI (berikut titik koordinat Hotel KAI Kab. Banyumas)

Penampakan Kamar Hotel KAI


Tak terasa pagipun tiba waktu menunjukkan pukul 5.30 WIB, walach saya bangun kesiangan nich, jadi kelewatan dach Shalat Shubuh segera saya bergegas mandi dan setelah itu melaksanakan Shalat Shubuh dengan cara meng-Qadhanya. Setelah selesai melaksanakan shalat mendadak ada yang mengetuk pintu kamar, saya pikir siapa, tadinya sich mau saya cuekin, tapi kok ngetuknya terus-terusan ???, pas saya buka pintu kamar ternyata ada Wanita yang membawakan saya nasi goreng, dia langsung memberikan nasi goreng itu kesaya tanpa berkata-kata, dalam hati bingung juga "Perasaan saya gak pesan nasi goreng ? " yo wess peduli amat dach tambahan memang lapar juga sich, umpama nanti kena biaya tambahan juga gak apa-apa pasti saya bayar.


Penampakan breakfastnya




Ternyata nasi goreng yang tadi diberikan ke saya adalah menu breakfast yang memang disediakan untuk tamu hotel yang menginap disana, menurut saya tarif sewa hotel Rp.100.000,- termasuk murah apalagi kita masih dapat menu Breakfast. 










   

Turing 2016 (Dieng Plateau) bagian 4

Selesai melaksanakan ibadah Shalat, maka perjalananpun dilanjutkan dengan suasana hujan, kebetulan dalam perjalanan ini saya sudah mempersiapkan diri sebelumnya terutama masalah penggunaan ban dimana ban sebelumnya Corsa saya ganti dengan Michelin Pilot Street (MPS), ban lawas sudah terasa licin dan grip ke tanah sudah mulai berkurang, ada beberapa kali saya hampir jatuh saat menggunakannya, mungkin sudah waktunya minta diganti dengan ban yang baru. Awal penggunaan ban MPS ini menurut saya agak rada aneh untuk dibagian roda belakang, jadi umpama kita riding lagi kecepatan diatas 60 KPJ berboncengan, seakan ban belakang rada goyang dombret ha..ha...ha... padahal kondisi jalan lurus & mulus serta motor dalam keadaan sehat wal'afiat, namun seiringnya waktu akhirnya kondisi itu tidak terjadi lagi, mungkin butuh penyesuaian dengan kontur aspal yang ada dan jujur malah makin bertambah ngegrip. Saat turing saya merasakan ban ini cocok untuk medan yang saya lalui apalagi saat itu disertai hujan dan jalanan cenderung licin, saya tidak bisa membayangkan kalau masih mempertahankan ban lama yang sudah dimakan usia, berita baiknya ban ini cocok juga digunakan untuk melahap jalan yang berkelok sedang maupun tajam. Untuk di track kering cukup ok lach bisa digunakan harian. 

Saat memasuki Tasikmalaya saya dihadapkan sebuah tanjakan yang sangat curam, jujur saya rada ngeri juga melalui jalan yang tanjakannya rada ekstrim berhubung saya menggunakan matic beda kalau kita menggunakan motor kopling berasa percaya diri. Dalam hati berpikir kalau gak dilaluin kapan nyampenya ke Dieng ha...ha...ha..., yo wess jalan saja nampak truk-truk berat coba melalui tanjakan tersebut. Alhamdulillah bisa dilalui dengan baik walaupun di pertengahan tanjakan motor sudah berasa berat naiknya nampak di speedometer menunjukkan angka < 20 kpj sudah tidak bisa nambah lagi kecepatan, Akhirnya sampailah saya di puncak tertinggi dengan disambut oleh para bidadari yang sedang memegang bendera finish ha...ha...ha.... Fuihh... susah juga melewati tanjakan ini seumur-umur baru kali ini melalui jalan yang seperti itu mana pakai motor matic lagi.

Sangat menyenangkan melalui jalur Tasikmalaya & Ciamis di malam hari disamping suasananya sepi dan jauh dari macet sepertinya penduduknya sudah banyak yang tertidur lelap padahal kalau tidak salah baru jam 9 malam berbeda dengan di Jakarta yang masih ramai. Jalan yang saya lalui sangat lancar kadang kita memasuki jalan yang berliku-liku, melewati sawah di kanan kiri jalan, terkadang memasuki suatu tempat yang jalannya penuh tanjakan dan turunan, tapi yang saya suka adalah jalannya benar-benar mulus, sepertinya Pemda setempat sangat memperhatikan hal ini. Cahaya peneranganpun masih mudah ditemui guna memudahkan pengguna jalan agar selalu berhati-hati di jalan, sayangnya helm yang saya gunakan visornya berwarna gelap sehingga bilamana malam tiba tentunya akan kesulitan melihat jalan dan agak berbahaya bila menutup visor helm, sehingga saat hujan datang otomatis percikan air hujan perlahan tapi pasti semakin menutupi pandangan mata saya terlebih lagi saya menggunakan kacamata. Yo wess daripada kita maksain jalan berhentilah saya di SPBU di daerah Ciamis sambil menunggu hujan reda. Lokasi Titik Koordinat SPBU Ciamis


Nampak ada beberapa orang yang sedang berkumpul disana sambil bercengkrama entah apa yang diobrolkan dan mereka begitu sangat ramah, saat melihat saya mereka langsung memberikan saya tempat duduk agar saya dapat segera berteduh, wow begitu ramahnya mereka kepada saya. Akhirnya saya pesan kopi sambil menunggu hujan reda.


Hikmah yang didapat dari perjalanan turing kali ini adalah semakin akrabnya kita dengan para pekerja di SPBU dengan agenda rutin mengunjungi mereka disetiap SPBU guna mengisi tangki bensin motor yang selalu merasa dahaga terus ha...ha...ha... jadi kangen motor batangan yang sudah laris terjual (Pulsar & TVS Apache) yang ngisi bensinnya gak terlalu sering.